Jumat, 12 Februari 2016

Kearifan Lokal - Obsesi (Komik) Indonesia

Jumpa lagi dengan saya. Ini post pertama untuk tahun ini dan diharapkan isinya dapat memuaskan serta menjadi cerminan bagi pos-posnya berikutnya. Memang cukup telat saya rasa, hampir dua bulan berlalu semenjak artikel pertama dirilis. Penyakit tarsok saya belum sembuh, dan memang harus segera dibasmi mengingat saya sendiri banyak ide artikel, dan cerita. Ditambah urusan skripsi di depan mata, tidak boleh ada yang ditunda-tunda lagi, dimulai dari artikel ini.

Cukup dengan introduksi panjang dan curhat pendek, saya akan kembali membicarakan persoalan kearifan lokal. Pada artikel sebelumnya memuat pemahaman saya atas apa itu yang disebut sebagai kearifan lokal agar pembaca mendapat pengertian yang sama. Di artikel lanjutannya ini akan saya tulis bagaimana perkara kearifan lokal itu menjadi obsesi tersendiri. Sebuah obsesi tidak sehat yang sebenarnya tidak hanya terdapat pada komik saja, sehingga saya harus meletakkan kurung pada judul di atas.

Ketika memperbincangkan komik Indonesia, topik kearifan lokal kerap menjadi salah satu yang sering diperbincangkan. Diskusi atas topik tersebut tidak hanya terjadi pada pembaca kasual, namun juga dilakukan oleh kalangan peminat komik. Biasanya yang menjadi sasaran kritik atau caci maki adalah gaya ilustrasi yang terasa tidak pas dan asing bagi si pembaca. Beruntung apabila diskusi mengenai kearifan lokal yang dilakukan ditujukan pada elemen-elemen yang lebih subtil seperti struktur cerita dan perilaku karakter.



Salah satu dari puluhan lomba yang menitikkberatkan
pada aspek kearifan lokal dalam submisi cerita
Fokus berlebih pada kearifan lokal tidak hanya ditumpahkan oleh kalangan pembaca. Para produser atau penerbit juga kerap kali menuntut komikus untuk memuat kearifan lokal dalam karyanya, lalu mempertanyakan dan menolak apabila komik hasil gubahannya tidak memiliki cerminan budaya Indonesia di dalamnya. Semisal saja pada tahun lalu, saya menghadiri sebuah seminar kecil tentang komik yang dihadiri salah satu dari pemilik majalah komik lokal. Dalam sesi bicaranya, kurang lebih dia mengatakan bahwa visi dari majalah komiknya adalah untuk menghadirkan komik dengan kearifan lokal yang kental dan dapat dibaca oleh semua umur. Penekanan pada aspek kearifan lokal sangat terasa dari visi tersebut.

Memang tidak ada yang salah dari sebuah visi untuk menghadirkan kearifan lokal bagi sebuah penerbit. Jujur saya juga dapat melihat tersebut sebagai sebuah upaya mulia ditengah arus budaya global di mana budaya luar bisa dengan mudah menarik minat kaum muda dan menjadi sebuah identitas bagi mereka. Namun tetap saja saya bertanya, ada apa dengan obsesi tersebut? Mengapa kearifan lokal ini begitu terus mendapat penekanan yang tiada habisnya dari berbagai pihak? 

"Cintailah produk-produk Indonesia", "Hargai karya anak bangsa", dan serangkaian kalimat serupa yang tiada habisnya digunakan sebagai bagian dari promosi suatu karya. Lalu ada fenomena di mana suatu karya asal Indonesia ditandingkan dengan sebuah karya asing yang asing terkenal, terkadang hingga membawa harga diri bangsa kedalamnya, seolah dengan menonton atau membeli yang satu akan menihilkan yang lainnya bahkan ketika tidak ada kesamaan dari dua karya ditandingkan.

Diambil langsung dari FP Raditya Dika
Yang ditampilkan dengan bangga

Kemunculan fenomena tersebut pada berbagai bidang kreatif termasuk film dan novel menjadi bukti bahwa obsesi atas kearifan lokal tidak hanya terdapat pada komik tapi terdapat pada insan kreatif lainnya di Indonesia ini. Kreator berlomba-lomba untuk menunjukkan siapa dari mereka yang paling Indonesia. Mengemis perhatian dengan dalih mencintai karya mereka berarti mendukung bangsa ini menjadi lebih besar. Ketika tidak terjual, tentu saja yang disalahkan adalah mereka yang tadinya dimintai perhatian, dianggap tidak menghargai atau semacamnya.

Demikian salah satu gejala dari penyakit yang lebih besar, yakni krisis identitas nasional dan inferiority complex yang akut. Penyakit ini tidak hanya menjangkit insan kreatif, namun juga orang juga Indonesia secara umumnya. Di setiap kesempatan yang ada (semisal dalam artikel yang memuji Indonesia atau bule yang memainkan game Indonesia di video Let's Play), mereka akan mengaku dan membanggakan ke-Indonesiaan mereka.

Bagi insan kreatif, penyakit bisa memberi dampak buruk yang serius. Akan timbul di dalam benaknya bahwa mereka telah mengemban sebuah tugas suci dan mulia bagi negara dan bangsa. Tentu saja tidak mengherankan apabila ini berujung pada sebuah entitlement, bahwa mereka berhak mendapatkan perhatian dari segenap masyarakat yang ada. Karena bagi mereka ini merupakan tugas maha mulia yang dilakukan demi negara, bukankah itu artinya karya mereka berhak diapresiasi tanpa ada coreng sama sekali?

Biarkan gambarnya yang berbicara sendirilah


Lebih buruk lagi pola pikir seperti demikian menjauhkan insan kreatif dari tugas sebenarnya yang paling penting, yakni menuturkan cerita yang baik. Jarang sekali unsur naratif dan cerita menjadi bahan diskusi ketika membicarakan suatu karya komik. Seluruh perhatian dan daya upaya dikerahkan pada kearifan lokal, yang mayoritas pun masih berada pada level kulit atas belaka.

Cerita bagus itu merupakan suatu hal yang universal. Semua orang dari segala usia, latar belakang, dan segala macam lainnya dapat mengerti ketika menyimak sebuah cerita yang dituturkan secara baik. Meskipun seringkali tidak terlepas daripada elemen-elemen kearifan lokal yang pada suatu cerita, kualitas dari narasinya itu sendiri yang akan membawanya melewati batas-batas budaya.

Sekarang saya akan coba fokuskan kembali artikel pada kepada komik Indonesia secara spesifik (mengingat judulnya): Mengapa komik Indonesia begitu getol dengan kearifan lokal? Tentu saja alasan terbesar sesuai dengan apa yang saya jabarkan di atas. Namun faktor lain yang memiliki peranan cukup penting di sini adalah persoalan pasar.

Pada dasarnya pasar di Indonesia yang berkaitan dengan baca-membaca itu kecil jumlahnya. Bahkan komik yang bermain visual dan sedikit-banyak telah memberi bekas pada sejarah budaya popular di Indonesia, tidak masuk kedalam pengecualian. Rata-rata penjualan komik tiap judulnya berkisar pada angka 2000-3000. Hanya judul-judul besar seperti One Piece, Dragon Ball, atau Naruto yang bisa terus dicetak ulang. Angka tersebut bila dibandingkan dengan penduduk Jabodetabek saja, belum Indonesia, sangat kecil jumlahnya.

Perlu diketahui kalau 5000 itu angka
di mana sebuah manga baru dianggap gagal
Tabel diambil dari ANN

Keterbatasan pasar mendorong baik penerbit maupun komikus untuk melebarkan sayapnya ke-khalayak umum yang lebih luas. Dengan apa caranya? Tentu saja dengan kearifan lokal sebagai ujung tombak dari upaya tersebut. Karena anggapannya, menggunakan kearifan lokal yang dekat pada benak dan pengalaman khalayak luas, maka dia akan lebih menarik dan serta merta lebih menjual dibandingkan komik yang tidak memilikinya atau mengangkat tema yang kelewat asing.

Anggapan tersebut memang tidak salah. Benar adanya kalau seseorang akan lebih suka menyimak sesuatu yang dirinya bisa refleksikan kedalam cerita. Sebagai pembaca, tentu saja kita paling menyukai momen di mana suatu adegan cerita begitu menyerupai pengalaman kita sendiri bukan? Namun sama dengan penjabaran sebelumnya, seluruh fokus dan upaya dikerahkan pada aspek kearifan lokal tersebut dengan mengindahkan sedikit pada cerita. Alhasil tidak jarang komikus yang mengganti kemasa ceritanya agar lebih menyentuh dengan kearifan lokal, berujung pada penampilan budaya yang hanya tampak pada kulitnya saja.

Lalu apa yang semestinya dilakukan oleh komik Indonesia? Saya sudah tuliskan sebelumnya: kualitas cerita dan pada artikel berikutnya lah saya akan menjelaskan lebih lanjut mengapa fokus pada kualitas cerita itu jauh lebih penting dari apapun, dan apa hubungannya dengan kearifan lokal dalam cerita.

Ada beberapa ide artikel lain yang hendak saya tulis nantinya ke depan, namun untuk sekarang, alangkah baiknya menyelesaikan seri ini terlebih ini dahulu diselingi beberapa resensi buku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar